1. Pulau Moyo, Wisata Mewah Tujuan Artis Dunia
Sudahkah anda menjelajahi keunikan Pulau Sulawesi? Jika belum, inilah saatnya anda memasukkan Sulawesi sebagai salah satu tujuan wisata anda di akhir tahun nanti.
Sebagai pulau yang berada di tengah-tengah kepulauan Indonesia, Sulawesi penuh dengan keunikan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Dari ujung utara hingga selatan, potensi
wisata sangat menarik untuk dikunjungi. Akan tetapi sebagai permulaan,
mungkin anda bisa mencoba untuk mengunjungi Pulau Malenge, yang berada di kawasan Sulawesi Tengah tepatnya di Togean.
Pulau Malenge ini merupakan gabungan anara dua pulau, yaitu Pulau
Papan yang merupakan tempat tinggal asli Suku Bajoe dan Pulau Kadoda
yang merupakan cottage. Dua pulau itu dihubungkan dengan jembatan kayu
sepanjang 1.800m. KOndisi geografisnya yang merupakan hutan tropis, dan
juga sebagai kawasan tempat tinggal asli Suku Bajoe tentu saja kesan
alami sangat kuat di pulau ini. Maka tidak salah jika kemudian kawasan
pulau ini dijadikan sebagai Taman Nasional Kepulauan Togean.
Kegiatan dan Fasilitas Wisata Pulau Malenge
Anda akan mempunyai banyak kegiatan di pulau yang terletak di wilayah
Kecamatan Walea, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah ini. Tetapi
seperti wisata kepulauan
lainnya, alat yang paling tepat untuk menjelajahi keindahan pulau ini
tentu saja dengan speedboat atau kapal. Anda bisa membagi pembayaran
biaya sewa kapal dengan wisatawan lainnya, atau jika anda menginginkan
sensasi yang lebih intim anda bisa menyewanya sendirian.
Meskipun pulau ini terdiri dari dua pulau, banyak pulau-pulau di
sekitar Pulau Malenge yang wajib untuk dikunjungi, seperti Pulau Angkaio
yang merupakan habitat asli kepiting endemik Sulawesi, yaitu Kepiting
Kenari. Kemudian juga ada Pulau Kadidiri, merupakan pulau alami yang
belum tersentuh polusi untuk kehidupan bawah lautnya. Untuk menuju pulau
terpencil ini dari Wakai hanya membutuhka waktu sekitar 30 menit dengan
kapal. Jika anda ingin menginap di pulau ini, tiga buah penginapan
sudah tersedia untuk anda.
Untuk menuju Pulau Malenge, anda bisa menggunakan perahu boat dari
Ampana dengan memakan waktu sekitar 2-4 jam. Jika anda datang dari
Jakarta, lebih baik anda memesan penerbangan menuju Palu atau Luwuk
dengan maskapai Lion Air, Sriwijaya Air, atau Garuda Indonesia. Dengan
biayan total-tiket pesawat plus taksi-sekitar Rp 2.000.000 dengan
pertimbangan biaya lain-lain. Anda juga bisa memilih pilihan armada
travel menuju Ampana, dengan tarif sekitar Rp 110.000. Jika anda datang
dari Gorontalo, anda langsung bisa naik kapal feri selama 12 jam menuju
Wakai yang kemudian akan berlayar ke Pulau Malenge.
2. Air Terjun Mata Jitu, Semua Orang Penasaran Ingin Pergi Ke Tempat Ini
Sebelum saya ke sana, ada dua nama
terkenal yang pernah mengunjungi Air Terjun Mata Jitu. Nama pertama
adalah Diana Frances, yang dahulu bergelar The Princess of Wales, namun
sekarang telah berganti gelar menjadi almarhumah Lady Di, sementara nama
kedua adalah Maria Sharapova, yang berprestasi menggantikan Anna
Kournikova di dalam mimpi-mimpi basah saya.
Lantas apakah alasan mereka mengunjungi Air Terjun Mata Jitu? Well,
saya pun tak tahu, karena saya belum pernah bertanya langsung kepada
mereka, melainkan hanya mampu memimpikan mereka layaknya saya memimpikan
Aryati, sang mawar asuhan rembulan.
Ibarat Perjalanan Menuju Air Terjun Mata Jitu
Jujur, tak mudah untuk mengunjungi Mata
Jitu yang terdapat di Pulau Moyo, karena kamu harus berganti moda
transportasi sedikitnya lima kali apabila berangkat dari Jakarta. Saking
susahnya, saya menyebut bahwa perjalanan menuju Air Terjun Mata Jitu
ini ibarat perjalanan untuk menemukan cinta sejati, yang walaupun susah,
kamu akan terus berjalan, karena kamu tahu bahwa cinta sejati itu ada.
Pagi itu, kami tiba di Pelabuhan Pantai
Goa (dinamakan demikian karena ada goa di pinggiran pantai) setelah pada
hari sebelumnya terbang dari Jakarta menuju Lombok yang kemudian
dilanjutkan menyeberang ke Sumbawa Besar menggunakan kapal feri. Dari
sini, perjalanan ke Mata Jitu masih harus dilanjutkan dengan kapal
nelayan lokal menuju Pulau Moyo, lokasi Mata Jitu berada.
Dari janji kapal yang berangkat pukul
tujuh, yang ternyata molor karena harus membeli bahan bakar dan menunggu
rombongan piknik lain –walaupun sebenarnya kami telah memesan kapal
tersebut hanya untuk rombongan kami saja–, akhirnya kami baru berangkat
pukul sembilan lewat, di saat matahari mulai terik.
“Maaf, mereka tiba-tiba datang, padahal
sebelumnya aku pikir mereka gak jadi ke Moyo.” Jelas si pemandu tur
kepada kami. Ya sudahlah, kasihan juga kalau rombongan yang salah
seorang anggotanya mengenakan atribut My Trip My Adventure itu sampai
tak jadi ke Pulau Moyo karena kami.
Perjalanan dengan kapal nelayan tersebut
juga tak dapat dibilang menyenangkan, karena kami harus menghabiskan dua
jam tanpa sandaran punggung di atas kapal yang berjalan tak terlalu
cepat. Belum lagi hujan deras yang tiba-tiba menyambut kami di Pelabuhan
Desa Labuan Aji begitu kapal merapat di Pulau Moyo, yang sontak membuat
saya lebih mirip seorang wet dancer daripada seorang remaja masjid.
Untungnya, homestay yang disewa
berada sangat dekat dengan pelabuhan, sehingga saya dapat mencapainya
dengan segera, walaupun dengan kondisi pakaian yang basah kuyup dan
puting membekas di kaus. Barulah setelah hujan reda dan badan kering,
kami berangkat menuju Mata Jitu dengan menggunakan ojek lokal dengan
jarak tempuh sejauh 7 kilometer, karena tak ada Gojek maupun Grab-Bike
di sana. Untuk waktu tempuhnya sendiri, diperkirakan selama setengah
jam.
Sumber : https://www.google.co.id/search?biw=1024&bih=657&tbm=isch&sa=1&q=gambar+wisata+pulau+moyo&oq=gambar+wisata+pulau+moyo&gs_l=img.3...1526340.1533234.0.1533630.21.20.0.0.0.0.293.2218.7j2j5.14.0....0...1c.1.64.img..8.0.0.-hgsAzq_psQ&bav=on.2,or.r_cp.&dpr=1&ech=1&psi=4S6YV-XmLoXUvATLqa_4DA.1469592324759.3&ei=ATmYV8PCHof_vASS4bX4AQ&emsg=NCSR&noj=1#imgrc=gRXh-xFvofLRcM%3A






0 komentar:
Posting Komentar